Pada mulanya, sebelum ada pendidikan melalui sekolah seperti sekarang,
pendidikan dijalankan secara spontan dan langsung dalam kehidupan
sehari-hari. Anak-anak petani langsung mempelajri pertanian dengan
langsung bekerja di sawah, anak-anak nelayan langsung mempelajari
kelautan dan perikanan langsung mengikuti orang dewasa menangkap ikan.
Selagi mempelajari pekerjaan yang dilakukan, mereka sekaligus juga
belajar tentang nilai-nilai dan norma-norma yang berhubungan dengan
pekerjaannya.
Dilihat secara demikian, maka pendidikan pada dasarnya merupakan sesuatu yang kongkret, spontan, dan tidak direncanakan tetapi langsung berhubungan dengan keperluan hidup. Dengan kata lain, dalam situasi yang belum mengenal sistem sekolah, sifat pendidikan pada dasarnya sesalu bersifat linked and matched.
Dilihat secara demikian, maka pendidikan pada dasarnya merupakan sesuatu yang kongkret, spontan, dan tidak direncanakan tetapi langsung berhubungan dengan keperluan hidup. Dengan kata lain, dalam situasi yang belum mengenal sistem sekolah, sifat pendidikan pada dasarnya sesalu bersifat linked and matched.
Konsep Link and Match telah dikumandangkan sejak tahun 1990-an. Saat
itu wacana yang muncul Perguruan Tinggi hanya sekedar menyiapkan
lulusan yang siap training, siap dimodifikasi, dan siap ditambahkan
ilmu. Padahal tuntutan para pengguna lulusan Perguruan Tinggi adalah
siap pakai, siap bekerja, dan sebagainya. Intinya industri tidak ingin
hanya sekedar terkena beban kembali, dengan biaya yang cukup tinggi,
untuk selain memberi gaji pada karyawan juga harus mengeluarkan dana
yang cukup besar untuk kembali melatih.
Konsep keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang dicetuskan mantan MenDikNas Prof. Dr. Wardiman perlu dihidupkan lagi. Konsep itu bisa menekan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi yang dari ke hari makin bertambahMenjalankan Link and Match bukanlah hal yang sederhana. Karena itu, idealnya, ada tiga komponen yang harus bergerak simultan untuk menyukseskan program Link and Match yaitu perguruan tinggi, dunia kerja (perusahaan) dan pemerintah. Dari ketiga komponen tersebut, peran perguruan tinggi merupakan keharusan dan syarat terpenting. Kreativitas dan kecerdasan pengelola perguruan tinggi menjadi faktor penentu bagi sukses tidaknya program tersebut
Inilah yang menjadi SOLUSI oleh Profesor Y Sutomo, Guru besar MSDM, asal Semarang ini dan yang saat ini menjadi Dewan pembina STIE AKA semarang, yang kampusnya terletak di Jalan Citarum No 44 Semarang, Lokasi yang strategis untuk mahasiwa dengan fasilitas yang tesedia di kota propinsi Jawa Tengah ini berkeinginan kuat memunculkan konsep Kuliah Strata 1 Ekonomi ( Program Studi Managemen dan Akutansi) dengan Link and Match, dan akhirnya memunculkan SARJANA BERPENEMPATAN KERJA sebelum Wisuda,
Besar harapan ini menjadi Awal dari revolusi pendidikan yang sudah dimulai oleh beberapa lembaga pendidikan namun belumpada Pendidikan tinggi yang lebih banyak lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar